Rabu, 09 Januari 2013

Berkata Abdullah bin al-Mu’taz rahimahullah:

إخوان السوء ينصرفون عند النكبة، ويقبلون مع النعمة

“Teman yang jelek akan menjauh ketika (kita) sedang kesusahan, dan akan mendekat ketika (kita) mendapat kesenangan.”
by: el-asnawi
Posted by Hasan Asnawi On 06.42 No comments READ FULL POST

Selasa, 08 Januari 2013

Soal : Jelsakan bagaimana anda meluruskan sikap fanatis terhadap ajaran nenek moyang dan pendapat tokoh?
Jawab : ketika kita ingin meluruskan sikap fanatis keluarga atau masyarakat terhadap ajaran nenek moyang dan pendapat tokoh, yang paling utama adalah kita tahu diri dengan kadar ilmu yang kita miliki. Karena jika kita berdakwah tanpa ilmu maka kerusakan yang ditimbulkan akan lebih besar dari kebaikan yang diharapkan. Maka dari itu Pentingnya berilmu sebelum beramal dan berdakwah.
Diantara hal-hal yang harus diperhatikan dalam berdakwah, khususnya meluruskan sikap fanatis terhadap ajaran nenek moyang dan pendapat tokoh adalah:
1.      Mengikhlaskan niat semata-mata untuk menolong agama Allah dan mengharapkan keridhoannya.
2.      Berdakwah dengan hikmah (berilmu, perkataan yang baik, sopan, kasih sayang, lemah lembut).
3.      Membawakan ayat, hadits, atau qoul ‘ulama’ yang menjelaskan tentang larangan taqlid dan fanatis terhadap ajaran nenek moyang dan pendapat tokoh tidak secara langsung, cukup dengan terjemah / kandungan yang ada dalam dalil tersebut, karena biyasanya mereka merasa tersinggung dan merasa diremehkan ketika kita berdiskusi dengan cara seperti itu. Cukup memberikan contoh-contoh realita, penalaran, dan bantahan secara halus.
4.      Menggunakan uslub pertanyaaan dalam berdakwah, jadi seakan-akan kita tidak mengetahuinya kemudian kita memberikan beberapa pertanyaan yang dapat membuat mereka ragu terhadap  pemahamannya, selanjutnya kita bisa memberikan argumen (pemahaman kita) bisa kita gunakan kata “setahu saya . . . . .” / “saya pernah mendengar seorang ustadz . . .” atau dengan kalimat-kalimat yang lainya.
5.      Memperbaiki akhlak sendiri sebelum berdakwah.
6.      Melaksanakan perintah Allah (kewajiban-kewajiban) seperti shalat jamaah. Mengamalkan sunnah. Dan menjauhi larangan-larangan.
7.      Bermuamalah dengan baik (Menyebarkan salam, menyapa ketika bertemu)
8.      Menghindari / menyimpan pakaian-pakian yang membuat meeeka alergi dengan kita ex: jubah, gamis, dll (jika mereka adalah orang yang keras, jangankan bermuamalah dengan kita, justru mereka akan menjauhi kita gara-gara pakaian yang kita pakai).
9.      Memberikan contoh dan tauladan yang baik, (mengajar TPA, mengikuti kegiatan kemasyarakatan yang tidak menyelisihi agama bahkan memiliki kemaslahatan).
10.  Menghindari berdebat khususnya debat kusir yang tidak ada maslahatnya.
11.  Tidak putus asa dalam berdakwah, seandainya orang yang fanatis tadi tidak mau menerima dakwah kita berdoa semoga kelak ada dari keturunannya yang berjuang untuk menegakkan sunnah dan meninggikan kalimat لا إله إلا الله.
12.  Bersabar dalam berdakwah, karena berdakwah tidak bisa instan, membutuhkan waktu, jika hari ini dakwah kita belum bisa diterima semoga besok ia bisa menerimanya, jika tidak hari esok semoga minggu depan, jika tidak semoga bulan depan, jika tidak semoga tahun depan, dan seterusnya. Bahkan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam saja berdakwah sampai akhir hayat beliau. Nabi Nuh ‘alaihis salam
13.  Senantiasa mendoakan orang yang fanatis semoga dia diberi hidayah dan dia diberi kemudahan untuk menerima kebenaran
Posted by Hasan Asnawi On 18.53 No comments READ FULL POST
Mengikuti Pemahaman Para Sahabat (Salafus Shalih)
Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Ketahuilah bahwa kaum ahli kitab sebelum kalian berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sungguh agama ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua di neraka, dan satu di surga; yaitu al-Jama’ah.” (HR. Abu Dawud no. 4597, dihasankan Syaikh al-Albani)
Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Sesungguhnya Bani Isra’il berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Adapun umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan saja.” Mereka pun bertanya, “Siapakah golongan itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Orang-orang yang mengikuti aku dan para sahabatku.”(HR. Tirmidzi no. 2641, dihasankan Syaikh al-Albani)
Dari al-’Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu, beliau menuturkan: Pada suatu hari tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat mengimami kami, kemudian beliau menghadap kepada kami. Beliau pun memberikan nasehat kepada kami dengan suatu nasehat yang meneteskan air mata dan membuat hati merasa takut. Maka ada seseorang yang berkata, “Wahai Rasulullah! Seakan-akan ini adalah nasehat seorang yang hendak berpisah. Apakah yang hendak anda pesankan kepada kami?”. Beliau pun bersabda,“Aku wasiatkan kepada kalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan patuh, meskipun pemimpinmu adalah seorang budak Habasyi. Barangsiapa diantara kalian yang masih hidup sesudahku niscaya akan melihat banyak perselisihan. Oleh sebab itu berpegang teguhlah kalian dengan Sunnah/ajaranku dan Sunnah para khalifah yang lurus lagi mendapat hidayah. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian! Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap ajaran yang diada-adakan itu bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607, disahihkan Syaikh al-Albani)
Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah berkata, “Kami mengikuti Sunnah dan Jama’ah, dan kami menjauhi ajaran-ajaran yang nyleneh, perselisihan, dan perpecahan.”(lihat al-’Aqidah ath-Thahawiyahhasyiyah Syaikh Muhammad bin Mani’ dan ta’liqSyaikh Bin Baz, hal. 69 cet. Adhwa’ as-Salaf, dan al-Minhah al-Ilahiyah, hal. 347). Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, Sunnah adalah jalan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun al-Jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin; mereka itu adalah para sahabat, dan para pengikut setia mereka hingga hari kiamat. Mengikuti mereka adalah petunjuk, sedangkan menyelisihi mereka adalah kesesatan.” (lihat Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyahtakhrij Syaikh al-Albani, hal. 382 cet. al-Maktab al-Islami)


Posted by Hasan Asnawi On 18.46 No comments READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

    Blogger news

    Blogroll

    About